bgpaymail

Sabtu, 03 Januari 2009

ADAKAH ENGKAU MENCINTAIKU

beribu hari ku lalui bersama mu….
namun kau tak pernah peduli kan hadirku….
berjuta masa ku menemani raga mu…
namun bathinmu tak pernah ingin kan ku…

hingga ambang batas rasa cintaku….
ku langkahkan kaki menjauhi mu….
namun tetap tak kau relakan….
apa yang sebenarnya ada dalam kalbumu???

cinta atau kah sebatas keinginan dan ke egoisan???

ku terdiam sejenak tuk memutuskan…
namun cinta ku pada mu tetap berkobar…
dan kuputuskan untuk tetap tinggal di dekat mu…

hari pun silih berganti…
namun kau tetap seperti yang dulu…
acuh dan tak peduli pada cintaku…

dan hingga batas waktu ini…
slalu dan kan slalu kUpertanyakan…
ADAKAH ENGKAU MENCINTAIKU

10 Alasan Mencintaimu

Aku butuh teman untuk melalui
Aku butuh kawan untuk berbagi

Aku butuh bayangan untuk mengikuti
Aku butuh mentari untuk menerangi

Aku butuh air untuk menyirami
Aku butuh pohon untuk meneduhi

Aku butuh pagi setelah gelap hari
Aku butuh tempat untuk kudiami

Aku butuh tersenyum setelah bersedih
Aku butuh hati untuk disayangi

Untuk itulah kuingin kau tetap disini
Hingga kelak kujadikan seorang istri

Pedih

Mereka tertawa seolah aku tak merasakan apa-apa
Seperti perpisahan hanyalah sebuah fase biasa
Mengolok-olok dan memberi semangat seadanya
Kawan… aku baru saja kehilangan cinta

Semua melarangku menangis, hatiku tak boleh menjerit
Tapi mereka tertawa… bukannya memapah jiwaku yang lemah
Tak ada lagi singa dan serigala di dalam jiwaku kini
Kumohon tolong, berhentilah menertawakan kepergiannya !

Aku hanya ingin engkau tahu, bukan menertawakanku
apalagi menghujatku… sebab engkau kawanku
Jika tak bisa kau berikan aku empatimu
Jika tak bisa kujadikan engkau penguatku

Kumohon berikan aku ruang sunyi untuk mendamaikan diri
tuk mengenangnya pergi…
tuk menantinya datang kembali…
tuk membangun semangatku lagi…

kematian !!! siap menjemput !!!!!

Anda pernah lihat acara ulang tahun?

Jika ya, tentulah yang berulang tahun pada

saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang ironis. Jika

seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya bertambah 1 tahun, maka

seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya telah berkurang 1 tahun.

Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1 tahun pula jatah hidup kita

berkurang. Dan dengan berkurangnya jatah hidup kita, kematian semakin mendekat.

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Setiap yang berjiwa akan

merasakan kematian, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu melainkan pada

hari kiamat." (QS: Ali Imran: 185).

Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba. Malaikat

maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah ber-assalaamu'alaikum atau

meimnta permisi pada orang yang akan ia cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan

ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Mungkin sebelum

kita selesai membaca tulisan ini, kita sudah dicabut nyawa kita olehnya.

Padahal jika kita mati, babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita

bisa mempersiapkan diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu

musnah sudah.

Ketika 'Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata, "Aku

menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup senang di

dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di mana aku tidak bisa

lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di malam hari."

Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal. Al-Hasan

berkata, "Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada

kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal

kematian dari belakangnya "

Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau

husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau su'ul-khotimah. Husnul-khotimah

adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Alloh dan percaya pada hari

berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah

faktor utama untuk menuju husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal

sholih itu adalah wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang

yang mati dalam memperjuangkan kalimat Alloh atau sesorang yang akhir amalannya

dalam taat pada Alloh. Rasululloh shallAllohu 'alaihi wa sallam bersabda, yang

artinya, "Siapa saja yang mengucapkan 'Laa ilaaha illaLlaah' pada akhir

hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang

berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka dia akan masuk

surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha

Alloh, maka ia akan masuk surga. " (HR: Ahmad V/391).

Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, "Pada saat kematian

seperti ini seyogyanya orang-orang mau mengambil pelajaran agar dapat beramal

sholih. Ya Alloh, hamba mohon ampunanMu atas segala dosa hamba. Hamba bertaubat

dari segala dosa. Laa ilaaha illaLlaah." Begitulah yang ia ucapkan terus menerus

hingga ia meninggal dunia.

Saat hampir wafat, Alla bin Ziyad menangis dan ia ditanya, "Apa yang membuat

Anda menangis?" Ia menjawab, "Demi Alloh, aku ingin menyambut maut dengan

tauba." Orang-orang berkata, "Lakukanlah, semoga Alloh memberi rahmat kepadamu.

"Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian baru, lalu ia menghadap kiblat lalu

memberi isyarat dengan kepalanya dua kali dan menelentangkan badan kemudian

meninggal dunia.

Mush'ab bercerita, "(Ketika sakit) Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam

mendengar suara adzan lalu dengan langkah yang berat -karena sakit- meminta

untuk dituntun dengan berkata," Peganglah tanganku," Dia masuk masjid bersama

imam lalu ruku' sekali, setelah itu ia meninggal dunia.

Sedangkan su'ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia seseorang

didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras

kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus

masuk ke neraka secara kekal kalau tidak diampuni oleh Alloh subhanahu wa

ta'ala. Sebab-sebab su'ul-khotimah secara ringkas antara lain adalah perasaan

ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan atau perkara dalam

agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallAllohui 'alaihi wa sallam,

menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang

dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.

Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di antara

kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan kalimat tauhid,

Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan, "Barang ini murah. Barang

pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang itu begitu...." dan begitu

seterusnya hingga ia mati.

Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang dalam

keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha

illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu, "Naanana...naanana..." hingga

ia mati.

Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai berikut,

"Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca kalimat syahadat

menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya

adalah kalimat yang justru mengingkari kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam

keadaan seperti itu. Ketika kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia

adalah peminum minuman keras" Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat,

"Takutlah kalian dari berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan

dia seperti itu. "

Ada pula yang tanda-tanda su'ul-khotimahnya tampak setelah si malang mati.

Syaikh Al-Qahthany bercerita, "Pernah aku memandikan mayat. Baru saja kumulai,

mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam, padahal sebelumnya

putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari tempat memandikan. Lalu aku

bertemu dengan seorang laki-laki. Aku bertanya,"Mayat itu milikmukah ?" Ia

jawab, "Ya," Aku bertanya lagi, "Apa ia ayahmu?" Ia menjawab, "Ya." Aku

bertanya, "Kenapa ayahmu itu sampai begini?" Ia menjawab, "Sewaktu hidupnya ia

tidak sholat." Maka aku katakan kepadanya, " Urusi sendiri ayahmu, dan

mandikanlah ia !"

Ibnu Qayyim berkata, "Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany bercerita pada

kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di

taman. Menjelang matahari tergelincir, ia meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba

ia melihat sebuah bola api yang telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat.

Dia usap-usap matanya seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau

kenyataan. Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa

hal ini suatu kenyataan.

Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya menyuguhi

makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana ke mari, akhirnya

diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan penguasa yang zalim yang suka

korupsi yang kebetulan mati hari itu."

Kita mohon perlindungan Alloh dari su'ul-khotimah. Kita tidak tahu bagaimana

akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu hendaknya kita

instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita.

Orang-orang sholih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup mereka.

Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, "Aku begitu takut kalau

dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang celaka. Atau imanku lepas

ketika akan menghadapi maut."

Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya berkata, "

Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah

membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka ?"

Ketika Abu 'Athi'ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan. Orang-orang

bertanya, "Mengapa Anda ketakutan?" Dia menjawab, "Bagaimana mungkin aku tidak

takut pada detik-detik seperti ini dan kemudian aku akan dibawa ke mana, aku

tidak tahu. "Begitulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu. Walau pun sudah

terkenal kesalehannya, namun tetap saja mereka takut pada su-ul khotimah.

Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa takut akan

su'ul-khotimah? Padahal mereka, yang tentu lebih baik agamanya dari kita pun

masih merasa takut akan su'ul-khotimah.

Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khotimah dan tanpa su'ul-khotimah, apa

yang harus dilakukan? Simak hadits ini: Dari Ali bin Abu Thalib radhiyAllohu

'anhu dari Nabi shallAllohu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Setiap diri

yang telah dihembuskan nyawanya, maka Alloh telah menentukan tempatnya di surga

atau di neraka" Lalu ada seorang shahabat yang bertanya, " Ya Rasululloh, kalau

begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada

kita dan kita tidak usah beramal ?" Rasululloh ShallAllohu 'alaihi wa sallam

bersabda, "Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap apa yang

telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang yang bahagia, maka

Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang bahagia. dan adapun

yang termasuk orang-orang yang celaka, maka Alloh akan memudahkannya melakukan

amalan orang-orang yang celaka. "Kemudian beliau membaca firman Alloh: "Adapun

orang-orang yang memberikan (hartanya pada jalan Alloh) dan bertaqwa, dan

membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan

baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya

cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami kan menyiapkan

baginya (jalan) yang sukar [QS: Al-Lail: 5-10]" (HR: Al-Bukhary dan Muslim)

Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal sholih,

walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim

ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman, Alloh akan memudahkan beginya

jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk

agar Alloh menghindarkan kita dari jalan yang celaka.

Tentu saja, beramal sholih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang jitu

untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan menerapkannya

dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah sewajarnya kita

berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat bertanya, membaca

buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di majelis pengajian.

http://hudzaifah89.blogspot.com/2007/10/kematian-siap-menjemput.html

kematian !!! siap menjemput !!!!!

Anda pernah lihat acara ulang tahun?

Jika ya, tentulah yang berulang tahun pada

saat itu kelihatan gembira. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang ironis. Jika

seseorang bergembira pada saat jumlah tahun hidupnya bertambah 1 tahun, maka

seharusnya ia bersedih karena jatah hidupnya telah berkurang 1 tahun.

Begitulah, 1 tahun kita lewati hidup ini, 1 tahun pula jatah hidup kita

berkurang. Dan dengan berkurangnya jatah hidup kita, kematian semakin mendekat.

Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya: "Setiap yang berjiwa akan

merasakan kematian, dan tidak akan disempurnakan balasan kamu melainkan pada

hari kiamat." (QS: Ali Imran: 185).

Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba. Malaikat

maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah ber-assalaamu'alaikum atau

meimnta permisi pada orang yang akan ia cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan

ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Mungkin sebelum

kita selesai membaca tulisan ini, kita sudah dicabut nyawa kita olehnya.

Padahal jika kita mati, babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita

bisa mempersiapkan diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu

musnah sudah.

Ketika 'Amr bin Abdu Qais menjelang wafat, ia menangis dan berkata, "Aku

menangis bukan karena takut mati, bukan pula karena ingin hidup senang di

dunia, melainkan karena telah tiba pada satu batas waktu di mana aku tidak bisa

lagi beribadah di siang hari dan shalat tahajud di malam hari."

Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal. Al-Hasan

berkata, "Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada

kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal

kematian dari belakangnya "

Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau

husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau su'ul-khotimah. Husnul-khotimah

adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Alloh dan percaya pada hari

berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah

faktor utama untuk menuju husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal

sholih itu adalah wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang

yang mati dalam memperjuangkan kalimat Alloh atau sesorang yang akhir amalannya

dalam taat pada Alloh. Rasululloh shallAllohu 'alaihi wa sallam bersabda, yang

artinya, "Siapa saja yang mengucapkan 'Laa ilaaha illaLlaah' pada akhir

hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang

berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Alloh , maka dia akan masuk

surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha

Alloh, maka ia akan masuk surga. " (HR: Ahmad V/391).

Ketika hampir wafat, Amir bin Abdullah menangis dan berkata, "Pada saat kematian

seperti ini seyogyanya orang-orang mau mengambil pelajaran agar dapat beramal

sholih. Ya Alloh, hamba mohon ampunanMu atas segala dosa hamba. Hamba bertaubat

dari segala dosa. Laa ilaaha illaLlaah." Begitulah yang ia ucapkan terus menerus

hingga ia meninggal dunia.

Saat hampir wafat, Alla bin Ziyad menangis dan ia ditanya, "Apa yang membuat

Anda menangis?" Ia menjawab, "Demi Alloh, aku ingin menyambut maut dengan

tauba." Orang-orang berkata, "Lakukanlah, semoga Alloh memberi rahmat kepadamu.

"Dia meminta untuk bersuci dan berpakaian baru, lalu ia menghadap kiblat lalu

memberi isyarat dengan kepalanya dua kali dan menelentangkan badan kemudian

meninggal dunia.

Mush'ab bercerita, "(Ketika sakit) Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam

mendengar suara adzan lalu dengan langkah yang berat -karena sakit- meminta

untuk dituntun dengan berkata," Peganglah tanganku," Dia masuk masjid bersama

imam lalu ruku' sekali, setelah itu ia meninggal dunia.

Sedangkan su'ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia seseorang

didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras

kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus

masuk ke neraka secara kekal kalau tidak diampuni oleh Alloh subhanahu wa

ta'ala. Sebab-sebab su'ul-khotimah secara ringkas antara lain adalah perasaan

ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan atau perkara dalam

agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallAllohui 'alaihi wa sallam,

menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang

dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.

Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di antara

kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan kalimat tauhid,

Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan, "Barang ini murah. Barang

pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang itu begitu...." dan begitu

seterusnya hingga ia mati.

Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang dalam

keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha

illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu, "Naanana...naanana..." hingga

ia mati.

Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai berikut,

"Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca kalimat syahadat

menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya

adalah kalimat yang justru mengingkari kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam

keadaan seperti itu. Ketika kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia

adalah peminum minuman keras" Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat,

"Takutlah kalian dari berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan

dia seperti itu. "

Ada pula yang tanda-tanda su'ul-khotimahnya tampak setelah si malang mati.

Syaikh Al-Qahthany bercerita, "Pernah aku memandikan mayat. Baru saja kumulai,

mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam, padahal sebelumnya

putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari tempat memandikan. Lalu aku

bertemu dengan seorang laki-laki. Aku bertanya,"Mayat itu milikmukah ?" Ia

jawab, "Ya," Aku bertanya lagi, "Apa ia ayahmu?" Ia menjawab, "Ya." Aku

bertanya, "Kenapa ayahmu itu sampai begini?" Ia menjawab, "Sewaktu hidupnya ia

tidak sholat." Maka aku katakan kepadanya, " Urusi sendiri ayahmu, dan

mandikanlah ia !"

Ibnu Qayyim berkata, "Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany bercerita pada

kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di

taman. Menjelang matahari tergelincir, ia meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba

ia melihat sebuah bola api yang telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat.

Dia usap-usap matanya seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau

kenyataan. Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa

hal ini suatu kenyataan.

Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya menyuguhi

makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana ke mari, akhirnya

diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan penguasa yang zalim yang suka

korupsi yang kebetulan mati hari itu."

Kita mohon perlindungan Alloh dari su'ul-khotimah. Kita tidak tahu bagaimana

akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu hendaknya kita

instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita.

Orang-orang sholih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup mereka.

Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, "Aku begitu takut kalau

dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang celaka. Atau imanku lepas

ketika akan menghadapi maut."

Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya berkata, "

Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah

membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka ?"

Ketika Abu 'Athi'ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan. Orang-orang

bertanya, "Mengapa Anda ketakutan?" Dia menjawab, "Bagaimana mungkin aku tidak

takut pada detik-detik seperti ini dan kemudian aku akan dibawa ke mana, aku

tidak tahu. "Begitulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu. Walau pun sudah

terkenal kesalehannya, namun tetap saja mereka takut pada su-ul khotimah.

Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa takut akan

su'ul-khotimah? Padahal mereka, yang tentu lebih baik agamanya dari kita pun

masih merasa takut akan su'ul-khotimah.

Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khotimah dan tanpa su'ul-khotimah, apa

yang harus dilakukan? Simak hadits ini: Dari Ali bin Abu Thalib radhiyAllohu

'anhu dari Nabi shallAllohu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Setiap diri

yang telah dihembuskan nyawanya, maka Alloh telah menentukan tempatnya di surga

atau di neraka" Lalu ada seorang shahabat yang bertanya, " Ya Rasululloh, kalau

begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada

kita dan kita tidak usah beramal ?" Rasululloh ShallAllohu 'alaihi wa sallam

bersabda, "Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap apa yang

telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang yang bahagia, maka

Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang bahagia. dan adapun

yang termasuk orang-orang yang celaka, maka Alloh akan memudahkannya melakukan

amalan orang-orang yang celaka. "Kemudian beliau membaca firman Alloh: "Adapun

orang-orang yang memberikan (hartanya pada jalan Alloh) dan bertaqwa, dan

membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan

baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya

cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami kan menyiapkan

baginya (jalan) yang sukar [QS: Al-Lail: 5-10]" (HR: Al-Bukhary dan Muslim)

Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal sholih,

walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim

ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman, Alloh akan memudahkan beginya

jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk

agar Alloh menghindarkan kita dari jalan yang celaka.

Tentu saja, beramal sholih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang jitu

untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan menerapkannya

dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah sewajarnya kita

berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat bertanya, membaca

buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di majelis pengajian.

http://hudzaifah89.blogspot.com/

TAUBAT

AUBAT TAUBAT

[Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah]

Taubat yaitu : Keluar dari maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk taat

kepada-Nya. Taubat sangat dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.

"Artinya : Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan Allah

mencintai orang-orang yang mensucikan diri".

Taubat itu wajib bagi setiap Mukmin.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah

dengan sebenar-benar taubat".

Taubat merupakan penyebab memperoleh kemenangan.

"Artinya : Dan, bertaubatlah kamu kepada Allah semuanya wahai orang-orang yang

beriman, mudah-mudahan kamu memperoleh kemenangan".

Dan kemenangan itu adalah mencapai apa yang dimintanya serta selamat dari yang

ditakutinya. Taubat Nasuha yaitu Taubat yang Allah akan mengampuni semua dosa

dengannya, sebesar dan sebanyak apa pun dosanya ; sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Katakanlah ; 'Hai hamba-hambaku yang melampui batas terhadap diri

mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya

Allah mengampuni lagi Maha Penyayang" [Az-Zumar : 53]

Janganlah berputus asa dari rahmat Allah wahai saudaraku yang banyak berbuat

dosa, karena pintu taubat selalu terbuka hingga matahari terbit dari arah barat.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk

menerima taubat orang-orang yang bebuat dosa di siang hari, dan membentangkan

tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam

hari, sampai matahari terbit dari arah barat". [Hadits Riwayat Muslim].

Dan berapa banyak orang yang bertaubat dari dosa besar yang tak terhitung

jumlahnya, Allah menerima taubatnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain berserta Allah

dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar,

dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia

mendapatkan (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya

pada hari kiamat dan ia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina.

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh ; maka

kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan, Dan adalah Allah Maha Pengampun

lagi Maha Penyayang" [Al-Furqan :

68-70]

Tuabat Nasuha adalah taubat yang terkumpul di dalamnya 5 syarat.

Pertama.

Ikhlas untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan menunjukkan taubatnya keharibaan

Wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala, untuk mendapatkan pahala-Nya serta selamat dari

adzab-Nya.

Kedua.

Menyesali perbuatan maksiatnya dengan sebenar-benarnya penyesalan serta

berkemauan keras untuk tidak berbuat lagi.

Ketiga.

Segera meninggalkan maksiat. jika ia merupakan hak Allah, maka ia harus

meninggalkannya jika itu perbuatan yang diharamkan serta bersegera menunaikan

jika itu kewajiabn yang ditinggalkan.

Keempat.

Bercita-cita untuk tidak akan kemabli lagi kepada perbuatan maksiat tersebut di

masa mendatang.

Kelima.

Tidak menjadikan taubatnya berhenti sebelum diterimanya yaitu : sebelum

datangnya ajal atau terbitnya matahari dari arah barat.

Allah berfirman.

"Artinya : Dan, tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang

mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di

antara mereka, (barulah) ia mengatakan : 'sesungguhnya saya bertaubat sekarang

..." [An-Nisa : 18]

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Siapa yang bertaubat sebelum terbit matahari dari arah barat, niscaya

Allah terima taubatnya" [Hadits Riwayat Muslim]

Ya Allah berikanlah kepada kami taubat sebenar-benar taubat, dan terimalah semua

amalan kami, sesunguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

[Fatawa Hammah wa Risalah Fii Sifati Sholatin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

(Sifat Shalat Nabi Shallalahu 'alaihi wa sallam) Syiakh Muhammad bin Shalih

Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Pustaka Al-Kautsar, hal 69-72]

http://hudzaifah89.blogspot.com/


Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq Afifi

Kelahiran:
Dilahirkan di Shanshoor kota Ashmoon ibukota Manovia, Mesir, pada tahun 1323H.

Pendidikan:
Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah, beliau akhirnya mengikuti pendidikan tinggi hingga mendapatkan ijazah internasional pada tahun 1351H. Kemudian melanjutkan pada tingkat spesialis dengan mengambil jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh hingga selesai. Seluruh pendidikan ini beliau tempuh di Mesir.

Profesi:

  1. Menjadi pengajar di Al-Ma'had Al-Ilmiah, di Azhar.

  2. Menjadi pengajar di Saudi Arabia pada tahun 1368/1949, tepatnya di Ma'had Darut Tauhid, kota Thaif.

  3. Menjadi pengajar di Ma'had Al-Ilmi, kota Unaizah sejak bulan Muharram 1370H.

  4. Pada bulan Syawwal 1375H, beliau pindah ke Riyadh dan mengajar di Ma'had Al-Ilmiah yang dikelola oleh Syaikh Muhammad ibn Ibrahim Al-Syaikh (Mufti KSA saat itu).

  5. Menjadi pengajar di dua jurusan: Syariah dan Bahasa.

  6. Menjadi Direktur/Rektor Ma'had Al-Aliiy li Al-Qadha. Tahun 1385H.

  7. Menjadi anggota Haiah Kirab Al-Ulama (Lembaga Ulama Senior), Kerajaan Saudi Arabia.


Beliau memiliki daya ingat yang sangat kuat, teliti, dan sangat mendalam dalam ilmu jiwa. Beliau dikaruniai kesungguhan yang sangat dalam menuntut ilmu walaupun di luar Al-Azhar. Sangat mendalam ilmunya dalam bahasa, ushul, aqaid, sunnah, dan fiqh, hingga ketika beliau sedang berbicara dalam ilmu-uilmu tersebut, orang menyangka bahwa beliau sangat pakar dalam masalah yang sedang dibicarakannya tersebut. Beliau meluangkan waktu untuk mempelajari berbagai sekte-sekte hingga para penuntut ilmu selalu mencari beliau jika berhubungan dengan masalah sekte-sekte. Beliau pernah mengetuai berbagai sidang tesis dan disertasi, tim penguji, pemateri tetap di berbagai masjid, dan tim penyelenggaraan haji.

Pendapat Para Ulama tentang Beliau
Syaikh Abdul Aziz ibn Baaz berkata: Aku kenal baik dengan Syaikh yang mulia Abdurrazzaq Afifi; beliau sangat tawadhu, mendalam ilmunya, memiliki kepribadian mulia, benar aqidahnya, dan sangat bersungguh-sungguh dalam beraktivitas; beliau termasuk ulama-ulama terbaik dalam aspek aqidah, da'wah, dan pengajaran; beliau lalui hal ini dalam lebih dari 50 tahun, semoga Allah melipatgandakan balasan kebaikannya, mengangkat derajatnya, serta menggantikan untuk kita orang-orang yang lebih baik agi dari beliau.

Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin berkata:
Syaikh Abdurrazzaq Afifi adalah orang yang memiliki pemikiran kuat, banyak menelaah, lebih banyak diam kecuali jika apa yang akan diucapkannya lebih manfaat dan dicintai Allah, ilmunya sangat mendalam, bagus dalam pengajarannya, jelas ucapannya, beliaulah pemegang bendera kebenaran dan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Aku doakan semoga Allah yang Maha Tinggi memberi beliau balasan dan keridhaan, serta semoga Allah mempertemukan kita dan semua orang yang beriman di surga-Nya yang tinggi kelak. Amiin.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:
Syaikh Abdurrazzaq Afifi adalah salah seorang ulama yang termulia, beliau berhias dengan perangai ahli ilmu, lembut kepada sesama, sangat faqih dalam agama, aku pernah berjumpa dengan beliau lebih dari sekali pada saat-saat ibadah haji, saya mendengarkan bagaimana beliau menjawab berbagai pertanyaan agama yang diajukan oleh para jemaah haji, maka aku lihat jawaban-jawaban beliau sangat jelas yang menunjukkan kedalaman dan kefaqihan ilmunya serta menunjukkan bahwa beliau mengikuti manhaj salaf, semoga Allah merahmatinya.

Syaikh Abdul Aziz Al-Syaikh berkata:
Beliau adalah salah seorang penghujung/pembesar para ulama yang Allah anugerahi kedalaman ilmu dan pengajaran serta perbaikan generasi ... Beliau sangat luas ilmunya, haditsnya, tafsir, fiqh, pokok-pokok agama, dan bahasa Arab. Melalui sebab tangan beliau, telah tercetak banyak tokoh Islam. Suatu hari beliau pernah mengisi kajian di masjid Syaikh Muhammad ibn Ibrahim dengan topik tafsir. Penjelasan beliau amat sangat memberikan manfaat, wejangan-wejangan beliau sangat kuat; Beliau sejak berada di Saudi Arabia, menjadi pengajar di Ma'had Darut Tauhid, kemudian pindah ke berbagai ma'had/sekolah tinggi, dan terakhir menjadi anggota Lajnah Da'imah untuk urusan penelitian Islam dan Fatwa, serta menjadi anggota Haiah Kibaril Ulama (Komite Ulama-Ulama Senior) ... Beliaulah, semoga Allah merahmatinya, contoh sebagai sosok ulama yang beramal dengan keilmuannya.

Syaikh Shalih Al-Sadlan berkata:
Andai aku memiliki satu untaian kata, maka untaian kata itu akan saya khususkan untuk guru saya, Syaikh Abdurrazzaq Afifi. Beliau telah memberiku pelajaran yang sangat banyak dalam berbagai strata keilmuan, baik ketika saya menempuh S-1 pada mata kuliah hadits dan ushuluddin, dan pada Ma'had Al-Aliy lil Qadha, beliau mengajar Ushul Tafsir dan mengajariku materi Fiqh pada tahun terakhirku di Ma'had tersebut ... Dan tidaklah seseorang duduk barang sebentar saja mendengarkan kajian ilmu beliau kecuali pasti ia akan mendulang faidah dan manfaat yang banyak, baik sisi ilmu, kesantunan, dan akhlaqnya. Aku sangat kenal beliau yang tidak suka pujian, lisannya sangat jelas jika berbicara, saya tidak melihat ada pengajar yang semisal beliau dalam mentransfer ilmu kepada penuntut ilmu, dan beliau sangat dicintai manusia, serta tidak pernah terbayangkan olehku ternyata kewafatan beliau dihadiri oleh orang yang sangat banyak dari berbagai kalangan.

Murid-Murid Beliau:
Adalah teramat sulit untuk mendata berapa dan siapa saja murid murid beliau, namun akan kami kemukakan sedikit saja semoga bisa menggambarkan:
1. Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin
2. Abdullah ibn Abdurrahman Al-Ghudayyan
3. Shalih ibn Fauzan Al-Fauzan
4. Shalih ibn Muhammad Al-Luhaidan
5. Abdullah ibn Jibrin
6. Abdul Aziz Al-Syaikh
7. Abdullah ibn Abdurrahman Al-Bassam
8. Abdullah ibn Hasan ibn Quud
9. Shalih ibn Abdurrahman Al-Athram
10. Rasyid ibn Khunain
11. Abdullah ibn Sulaiman ibn Manii'.

Sebagai catatan tambahan di sini, kami utarakan bahwa Syaikh Abdurrazzaq Afifi adalah Syaikh-nya para Masya'ikh. Semoga Allah merahmati beliau dan mengumpulkan kita bersamanya kelak di surga-Nya, amiin.

Wafatnya Beliau
Beliau wafat pada Kamis pagi, 25 Rabiul Awwal 1415H bertepatan dengan 1 September 1994, pada usia 90 tahun. Beliau dimakamkan di Riyadh selepas shalat Jum'at. Jabatan beliau terakhir adalah wakil ketua Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi.

http://www.siwakz.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=45&artid=126